Berita Buruk

Posted in kotretan kuring on Juli 10, 2010 by addin18

Suatu sore telepon berbunyi.
“Hallo, Pak juri ? Ini saya, tuan, Dodo, pembantu di villa bapak..”

“Oh iya. Ada apa Do? Ada masalah?

“Anu..saya nelepon cuma mau ngasih tau, burung kakaktua bapak mati..”

“Kakaktua saya? Mati? Yang pernah menang di Lomba Tingkat Dunia itu??”

“Ya tuan..yang itu”

“Waduh sial juga ya…lumayan banyak juga tuh duit keluar buat
ngelatih tu burung..matinya kenapa do?”

“Gara2 makan daging busuk, tuan”

“Daging busuk?? Siapa yang ngasih dia daging busuk??!!”

“Ngga ada tuan..dia cuma makan daging kuda yang udah mati.”

“Kuda mati? Kuda mati apa??”

“Kuda punya tuan.”

“Kuda yang menang pacuan internasional itu?!!!”

“Iya tuan, Dia mati kecapen setelah narik gerobak tong air.”

“Lu gila ya? gerobak air apaan???”

“Gerobak air buat madamin api, tuan”

“Ya ampuun..api apa lagi???”

“Api di rumah tuan! Ada lilin yang jatuh dan apinya kena tirai..trus
merembet deh.”

“Ja..jadi..maksud lu villa mewah gua itu ancur berantakan gara2 lilin?!!!”

“Begitulah, tuan.”

“Tapi kan disitu banyak lampu!!! Tu lilin buat apaan???”

“Buat pemakaman, tuan.”

“Demi Tuhan, pemakaman apa doooo??!!”

“Pemakaman istri tuan.. Suatu malam dia berjalan2 di dalam rumah yang
gelap gulita, saya pikir maling, jadi saya hajar aja dia pake tongkat
golf Nike tuan…”

Sunyi……. ……… .. ,

Sunyi cukup lama….

“Doooo!!!!!! !!!….lu bener2 dalam bahaya besar, kalo tu tongkat golf ampe patah…..”
____________ _________ ________

??????????????????????????

Ayah,,,,,,,,,

Posted in Uncategorized on Juli 9, 2010 by addin18

Ref:- “The Wonder Of Dad”, Phillys Hobe

Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya,
menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak
tergantung pada siapapun – dan (tapi) selalu
membutuhkan kehadirannya.

Ayah hanya menyuruhmu mengerjakan pekerjaan yang kamu
sukai.
Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika
kamu masih kecil,
tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika
kamu sudah besar.
Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang
selalu memotret.
Ayah selalu tepat janji!

Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang
teman, meskipun
ajakanmu untuk pergi memancing sebenarnya lebih
menyenangkan.
Ayah akan tetap memasang kereta api listrik mainanmu
selama bertahun-tahun, meskipun kamu telah bosan,
karena ia tetap ingin kamu main kereta api itu.
Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya
pergi bermain
dengan teman-teman mereka, karena dia sadar itu adalah
akhir masa kecil
mereka.

Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa
ibumu hamil
(mengandungmu) , tapi begitu kamu lahir, ia mulai
membuat revisi.
Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan
diapun bisa
meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil,
seperti mengapung
di atas air setelah ia melepaskannya.

Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi
ia membantu kamu
mencarinya.
Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata
teman-temanmu dia
tampak lucu dan menyayangi.
Ayah sulit menghadapi rambutnya yang mulai
menipis….jadi dia menyalahkan tukang cukurnya
menggunting terlalu banyak di puncak kepala *_~
Ayah akan selalu memelihara janggut lebatnya, meski
telah memutih, agar
kau bisa “melihat” para malaikat bergelantungan di
sana dan agar kau selalu bisa mengenalinya.
Ayah selalu senang membantumu menyelesaikan PR,
kecuali PR matematika
terbaru.
Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur
hidup
Ayah benar-benar senang membantu seseorang… tapi ia
sukar meminta
bantuan.
Ayah terlalu lama menunda untuk membawa mobil ke
bengkel, karena ia
merasa dapat memperbaiki sendiri segalanya.

Ayah di dapur. Membuat memasak seperti penjelajahan
ilmiah.
Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri,
dan hanya dia
sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan
persamaan-persamaan rumit
itu.
Dan hasilnya?… .mmmmhhh…” tidak terlalu
mengecewakan” ^_~
Ayah akan sesumbar, bahwa dirinyalah satu – satunya
dalam keluarga yang
dapat memasak tumis kangkung rasa barbecue grill. *_~
Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih
muda, tapi ia
bisa belajar dengan cepat.

Ayah sangat senang kalau seluruh keluarga berkumpul
untuk makan
malam…walaupun harus makan dalam remangnya lilin
karena lampu mati.
Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup
tinggi untuk
membuatmu senang tapi tidak takut.

Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan
mengangkatmu di bahunya,
ketika pawai lewat.
Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi
ia tidak akan
tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.
Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi
dia tidak mau
memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia
akan menyatakan rasa
tidak setujunya.
Ayah percaya orang harus tepat waktu, karena itu dia
selalu lebih awal
menunggumu di depan rumah dengan sepeda tuanya, untuk
mengantarkanmu
di hari pertama masuk sekolah

AYAH ITU MURAH HATI…..
Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa
memberikan apa yang
kamu butuhkan…. .
Ia membiarkan orang-orangan sawahmu memakai sweater
kesayangannya. ….
Ia membelikanmu lollipop merk baru yang kamu inginkan,
dan ia akan
menghabiskannya kalau kamu tidak suka…..
Ia menghentikan apa saja yang sedang dikerjakannya,
kalau kamu ingin
bicara…
Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar
spp mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah
membantunya menghitung berapa banyak kerutan di
dahinya….
Bahkan dia akan senang hati mendengarkan nasehatmu
untuk menghentikan
kebiasaan merokoknya.. ..
Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan
merengkuhkan tangannya
di sekeliling beban itu….
Ayah akan berkata ,, tanyakan saja pada ibumu”
Ketika ia ingin berkata ,,tidak”
Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat
merah padam ketika
anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin.
Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika
anak lelakinya
kepergok menghisap rokok di kamar mandi.
Ayah mengatakan ,, tidak apa-apa mengambil sedikit
resiko asal kamu
sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan”
Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia
melihatmu melakukan
sesuatu persis seperti caranya….
Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada
prestasinya sendiri….
Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu
pergi merantau
meninggalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk
mungkin ia tidak
akan pernah bisa melepaskannya.

Ayah mengira seratus adalah tip..
Seribu adalah uang saku..
Gaji pertamamu terlalu besar untuknya…
Ayah tidak suka meneteskan air mata ….
ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis
untuk pertama kalinya,
dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari
matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis)
Ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk
mengusir rasa
takutmu…ketika kau mimpi akan dibunuh monster…
tapi…..ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa
tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya
di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.

Kalau tidak salah ayah pernah berkata : “kalau kau
ingin mendapatkan
pedang yang tajam dan berkualitas tinggi, janganlah
mencarinya di pasar
apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung
dari pandai besinya. Begitupun dengan cinta dan teman
dalam hidupmu, jika kau ingin
mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan
pesanlah pada Yang
Menciptakannya”

Untuk masa depan anak lelakinya Ayah berpesan:
“jadilah lebih kuat dan
tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak
wanita yang
lebih baik dari ibumu, berikan yang lebih baik untuk
menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah
ku beri padamu”

Dan untuk masa depan anak gadisnya Ayah berpesan:
“jangan cengeng
meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari
kecilku dan bidadari
terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak, pilihlah
laki-laki yang lebih bisa
melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan
pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu”

Ayah bersikeras, bahwa anak-anakmu kelak harus
bersikap lebih baik
daripada kamu dulu….
Ayah bisa membuatmu percaya diri…
karena ia percaya padamu…
Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia
hanya mencoba
melakukan yang terbaik….
Dan terpenting adalah…
Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Alloh,
bahkan dia akan
membentangkan seribu jalan agar kau dapat menggapai
cintaNya, karena
diapun mencintaimu karena cintaNya.

Jazakallah bil jannah untuk setiap peluh yang kau
teteskan, untuk
setiap kerut dahimu yang tak sempat kuhitung, untuk
setiap jaga
sepanjang malam ketika aku sakit dan ketika kau
merindukanku, untuk
tumis kangkung paling lezat sedunia, untuk tempat
duduk terbaik di bahumu yang begitu kekar ketika aku
ingin melihat pawai, untuk tetes “air mata laki-laki”
yang begitu mahal ketika kau khawatirkan aku,
untuk kepercayaanmu padaku, meski seringkali ku
khianati.
Tak akan pernah bisa terbalas segalanya, kecuali
dengan
…….jazakallah bil jannah, “semoga Alloh mengganti
semuanya dengan syurga, semoga bisa kubayar dengan
syurga yang Alloh beri, semoga…… ..”

Posted in kotretan kuring on Juli 4, 2010 by addin18

don’t spend time with some one who doesn’t care spending it with you…

Posted in Uncategorized on Juli 4, 2010 by addin18

just because someone doesn’t love you as you wish, it doesn’t mean you’re not loved with all his/her being…

Perkembangan fisik dan motorik remaja

Posted in kuliah on Juli 4, 2010 by addin18

PERKEMBANGAN ASPEK FISIK

DAN MOTORIK REMAJA

  1. A. Perkembangan Fisik

Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).

Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan. Semua organ ini terbentuk pada periode prenatal (dalam kandungan). Berkaitan dengan perkembangan fisik ini, Kuhlen dan Thomson (Hurlock, 1956) mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi:

  1. a. Sistem Syaraf

Sistem syaraf sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi. Aspek fisiologis lainnya yang sangat penting bagi kehidupan manusia adalah otak (brain). Otak dapat dikatakan sebagai pusat atau sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan. Otak ini terdiri atas 100 milyar sel syaraf (neuron), dan setiap sel syaraf tersebut rata-rata memiliki sekitar 3000 koneksi (hubungan) dengan sel-sel syaraf lainnya. Neuron ini terdiri dari inti sel (nucleus) dan sel body yang berfungsi sebagai penyalur aktivitas dari sel syaraf yang satu ke sel lainnya. Secara strukur otak ini terdiri atas tiga bagian, yaitu:

1)      Brainstem, termasuk di dalamnya celebellum yang berfungsi mengontrol keseimbangan koordinasi;

2)      Mid-brain, yang berfingsi sebagai stasion pengulang atau penyambung dan pengontrol pernafasan dan fungsi menelan; dan

3)      Cerebrum, sebagai pusat otak otak yang paling tinggi yang meliputi belahan otak kiri dan kanan (left and right hemispheres) dan sebagai pengikat syaraf-syaraf yang berhubungan dengannya (Vasta, Heith & Miller, 1992: 179-181).

Berkaitan dengan fungsi otak, dapat dibedakan berdasarkan kedua belahan otak tersebut, yaitu belahan kiri dan kanan. Fungsi kedua belahan otak adalah sbb:

Fungsi Otak Kiri Fungsi Otak Kanan
Berpikir rasional, ilmiah, logis, kritis, linier, analitis, referensial, dan konfergen.

Berkaitan erat dengan kemampuan belajar membaca, berhitung, dan bahasa.

Berpikir holistik, nonlinier, non-verbal, intuitif, imajinatif, non-referensial, divergen, dan bahkan mistik.

Proses pertumbuhan otak, menurut para ahli (Vasta, Heith & Miller, 1992) meliputi tiga tahap, yaitu:

1)      Produksi sel (cell production) yaitu bahwa sel-sel itu telah diproduksi diantara masa 8-16 minggu setelah masa konsepsi.

2)      Perpindahan Sel (cell migration) yaitu bahwa neuron-neuron itu bermigrasi melalui daya tarik kimia ke lokasi-lokasi sasaran yang semestinya.

3)      Elaborasi Sel (cell olaboration) yaitu terjadinya proses dimana axon (jaringan syaraf panjang body sel dalam neuron) membentuk syaraf synapses (ruang kecil diantara neuron-neuron dimana kegiatan syaraf terkomunikasikan antara sel yang satu dengan yang lainnya).

Otak mempunyai pengaruh yang sangat menentukan bagi perkembangan aspek-aspek perkembangan individu lainnya, baik keterampilan motorik, intelektual, emosional, sosial, moral, maupun kepribadian. Pertumbuhan otak yang normal (sehat) berpengaruh positif bagi perkembangan aspek-aspek lainnya sedangkan apabila pertumbuhannya tidak normal (karena pengaruh penyakit atau kurang gizi) cenderung akan menghambat perkembangan aspek-aspek tersebut.

  1. Otot-otot

Otot-otot mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik. Pertumbuhan anggota badan dan otot-otot pada remaja sering tidak seimbang. Akibatnya pada laki-laki mulai memperlihatkan penonjolan otot-otot pada dada, lengan, paha dan betis. Pada wanita mulai menunjukkan mekar tubuh yang membedakannya dengan tubuh kanak-kanak.

  1. b. Kelenjar Endokrin

Kelenjar endokrin menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru, seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan, yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis.

Dalam membahas pengaruh kelenjar endokrin terhadap pertumbuhan dan perkembangan, Sigelman dan Shaffer (1995) mengemukakan seperti tampak pada tabel berikut:

Tabel: Pengaruh Kelenjar Endokrin terhadap

Pertumbuhan dan Perkembangan

Kelenjar Endokrin Hormon yang Dihasilkan Fungsi
  1. 1. Pituitary
Hormon Pertumbuhan Mengatur atau merangsang pertumbuhan sel-sel tubuh dari mulai kelahiran sampai dengan remaja.
Hormon Pemicu Merangsang atau memicu kelenjar endokrin lainnya, seperti Ovarium dan Testes untuk mengeluarkan hormonnya.
  1. 2. Thyroid
Thyroxine Mempengaruhi pertumbuhan otak, dan membantu pengaturan pertumbuhan tubuh selama masa anak.
  1. 3. Testes
Testosterone Bertanggung jawab terhadap pertumbuhan sistem reproduksi pria pada periode sebelum lahir dan mengarahkan pertumbuhan seksual pria pada masa remaja.
  1. 4. Ovarium
Estrogen Progesterone Bertanggung jawab terhadap pengaturan menstruasi dan estrogen mengarahkan pertumbuhan seksual wanita pada masa remaja.
  1. 5. Adrenal
Androgen Adrenal Mendorong pertumbuhan otot dan tulang.
  1. c. Struktur Fisik/Tubuh

Struktur fisik/tubuh meliputi tinggi, berat dan proporsi. Pertumbuhan fisik masih jauh dari sempurna pada saat masa puber berakhir, dan juga belum sepenuhnya sempurna pada akhir masa awal remaja. Terdapat penurunan dalam laju pertumbuhan dan perkembangan internal lebih menonjol daripada perkembangan eksternal. Hal ini tidak mudah diamati dan diketahui sebagaiman halnya pertumbuhan tinggidan berat badan atau seperti perkembangan ciri-ciri seks sekunder.

  1. 1. Perubahan Tubuh Selama Masa Remaja
    1. a. Perubahan Eksternal
  • Tinggi

Rata-rata anak perempuan mencapai tinggi yang matang antara usia tujuh belas dan delapan belas tahun, dan rata-rata anak laki-laki kira-kira setahun sesudahnya.

  • Berat

Perubahan berat badan mengikuti jadwal yang sama dengan perubahan tinggi. Tetapi berat badan sekarang tersebar ke bagian-bagian tubuh yang tadinya hanya mengandung sedikit lemak atau tidak mengandung lemak sama sekali.

  • Proporsi Tubuh

Berbagai anggota tubuh lambat laun mencapai perbandingan tubuh yang baik. Misalnya, badan melebar dan memanjang sehingga anggita badan tidak lagi kelihatan terlalu panjang.

  • Organ Seks

Baik organ seks pria maupun wanita mencapai ukuran yang matang pada akhir masa remaja, tetapi fungsinya belum matang sampai beberapa tahun kemudian.

  • Ciri-ciri Sekunder

Ciri-ciri seks sekunder yang utama berada pada tingkat perkembangan yang matang pada akhir masa remaja.

  1. b. Perubahan Internal
  • Sistem Pencernaan

Perut menjadi lebih panjang dan tidak lagi terlampau bebentuk pipa, usus bertambah penjang dan bertambah besar, otot-otot perut di dinding-dinding usus menjadi lebih tebal dan lebih kuat, hati bertambah berat dan kerongkongan bertambah panjang.

  • Sistem Peredaran Darah

Jantung tumbuh pesat selama masa remaja; pada usia 17 atau 18, beratnya duabelas kali berat pada waktu lahir. Panjang dan tebal dinding pembuluh darah meningkat dan mencapai tingkat kematangan bilamana jantung sudah matang.

  • Sistem Pernafasan

Kapasitas paru-paru anak perempuan hamper matang pada usia 17 tahun; anak laki-laki mencapai tingkat kematangan beberapa tahun kemudian.

  • Sistem Endokrin

Kegiatan gonad yang meningkat pada masa puber menyebabkan keseimbangan sementara dan seluruh system endokrin pada awal masa puber. Kelenjar-kelenjar seks berkembang pesat dan berfungsi, meskipun belum mencapai ukuran matang sampai akhir masa remaja awal atau awal masa dewasa.

  • Jaringan Tubuh

Perkembangan kerangka berhenti rata-rata pada usia 18 tahun. Jaringan sel tulang berkembang sampai tulang mencapai ukuran matang, khususnya bagi perkembangan jaringan otot.

  1. 2. Kondisi – Kondisi yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik Remaja

Pertumbuhan fisik erat hubungannya dengan kondisi remaja. Kondisi yang baik berdampak baik pada pertumbuhan fisik remaja, demikian pula sebaliknya.

Adapun kondisi-kondisi yang mempengaruhi sebagai berikut :

  1. a. Pengaruh Keluarga

Pengaruh keluarga meliputi faktor keturunan maupun faktor lingkungan. Karena faktor keturunan seorang anak dapat lebih tinggi atau panjang dari anak lainnya, sehingga ia lebih berat tubuhnya, jika ayah dan ibunya atau kakeknya tinggi dan panjang. Faktor lingkungan akan membantu menentukan tercapai tidaknya perwujudan potensi keturunan yang dibawa dari orang tuanya.

  1. b. Pengaruh Gizi

Anak yang mendapatkan gizi cukup biasanya akan lebih tinggi tubuhnya dan sedikit lebih cepat mencapai taraf dewasa dibadingkan dengan mereka yang tidak mendapatkan gizi cukup. Lingkungan juga dapat memberikan pengaruh pada remaja sedemikian rupa sehingga menghambat atau mempercepat potensi untuk pertumbuhan dimasa remaja.

  1. c. Gangguan Emosional

Terbentuknya steroid adrenal yang berlebihan dan ini akan membawa akibat berkurangnya pembentukan hormon pertumbuhan di kelenjar pituitary. Bila terjadi hal demikian pertumbuhan awal remajanya terhambat dan tidak tercapai berat tubuh yang seharusnya.

  1. Jenis Kelamin

Anak laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat dari pada anak perempuan, kecuali pada usia 12 – 15 tahun. Anak perempuan baisanya akan sedikit lebih tinggi dan lebih berat dari pada laki-laki-laki. Hal ini terjadi karena bentuk tulang dan otot pada anak laki-laki berbeda dengan perempuan. Anak perempuan lebih cepat kematangannya dari pada laki-laki

  1. Status Sosial Ekonomi

Anak yang berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah, cenderung lebih kecil dari pada anak yang bersal dari keluarga dengan tingkat ekonomi rendah.

  1. f. Kesehatan

Kesehatan amat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik remaja. Remaja yang berbadan sehat dan jarang sakit, biasanya memiliki tubuh yang lebih tinggi dan berat disbanding yang sering sakit.

  1. g. Pengaruh Bentuk Tubuh

Perubahan psikologis muncul antara lain disebabkan oleh perubahan-perubahan fisik. Diantara perubahan fisik yang sangat berpengaruh adalah; pertumbuhan tubuh (badan makin panjang dan tinggi), mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada perempuan dan

  1. 3. Variasi dalam Perubahan Fisik

Seperti pada semua usia, dalam perubahan fisik juga terdapat perbedaan individual. Perbedaan seks sangat jelas. Meskipun anak laki-laki memulai pertumbuhan pesatnya lebih lamban daripada anak perempuan, pertumbuhan laki-laki berlangsung lebih lama, sehingga pada saat matang biasanya laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Karena otot anak laki-laki tumbuh besar daripada otot perempuan. Setelah masa puber, kekuatan anak laki-laki melebihi kekuatan anak perempuan, dan perbedaan terus menungkat.

Perbedaan individual juga dipengaruhi oleh usia kematangan. Anak yang matangnya terlambat cenderung mempunyai bahu yang lebih lebar daripada anak yang matang lebih awal. Tunkai kaki anak yang matang lebih awal cenderung pendek gemuk; tungkai kaki anak yang matangnya terlambat cenderung lebih ramping. Anak perempuan yang matang lebih awal lebih berat, lebih tinggi dan lebih gemuk dibandingkan dengan anak perepuan yang matangnya terlambat.

  1. 4. Efek Perubahan Fisik

Dengan berkurangnya perubahan fisik , kecanggungan pada masa puber dan awal masa remaja pada umumnya menghilang, karena remaja yang lebih besar sudah mempunyai waktu tertentu untuk mengawasi tubuhnya yang bertambah besar. Remaja juga terdorong untuk menggunakan kekuatan yang baru diperoleh dan selanjutnya merupakan bantuan untuk mengatasi setiap kecanggungan yang timbul kemudian.

Karena kekuatan mengikuti pertumbuhan bentuk otot, anak laki-laki umumnya menunjukkan peningkatan kekuatan yang terbesar setelah usia 14 tahun, sedangkan anak perempuan menunjukkan kemajuan sampai usia ini dan kemudian ketinggalan, karena perubahan minat lebih daripada kurangnya kemampuan. Anak perempuan pada umumnya mencapai kekuatan maksimum kira-kira pada 17 tahun, sedangkan anak laki-laki belum mencapai kekuatan maksimum sebelum berusia 21 atau 22 tahun.

  1. 5. Keprihatinan Akan Perubahan Fisik

Hanya sedikit remaja yang mengalami kateksi-tubuh atau merasa puas dengan tubuhnya. Ketidakpuasan lebih banyak dialami di beberapa bagian tubuh tertentu. Kegagalan mengalami kateksis-tubuh menjadi salah satu sebab timbulnya konsep diri yang kurang baik dan kurangnya harga diri selama masa remaja (100).

Beberapa keprihatinan akan tubuh yang diahapi remaja merupakan lanjutan dari pelbagai keprihatinan diri yang dialami pada masa remaja dan yang pada awal tahun-tahun remaja didasarkan pada kondisi-kondisi yang masih berlaku. Misalnya keprihatinan akan kenormalan, akan terus berlangsung sampai perubahan fisik pada permukaan tubuh berakhir dan sampai para remaja merasa yakin bahwa tubuh mereka sesuai dengan norma kelompok seks mereka. Demikian pula, keprihatinan akan kepatutan seks, yang sangat menonjol pada masa puber, terus berlangsung sampai pertumbuhan dan perkembangan cirri seks primer dan sekunder berakhir sehingga remaj mempunyai kesempatan untuk melihat apakah tubuh mereka sesuai dengan standar budaya kepatutan seks.

Kesadaran akan adanya reaksi social terhadap berbagai bentuk tubuh menyebabkan remaja prihatin akan pertumbuhan tubuhnya yang tidak sesuai dengan standar budaya yang berlaku. Karena mengetahui bahwa reaksi social terhadap bentuk tubuh endomorfik pada laki-laki dan perempuan adalah kurang baik dibandingkan dengan bentuk tubuh ektomorfik, dan mesomorfik, maka anak-anak yang bentuk tubuhnya cenderung endomorfik merasa prihatin.

Bagi banyak anak perempuan, haid merupakan masalah yang serius, seperti kejang, bertambah gemuk, sakit kepala, sakit punggung, pembengkakan lutut, kehalusan payudara, dan mengalami perubahan emosi seperti seperti perubahan suasana hati, sedih, gelisah, dan kecenderungan menangis tanpa sebab yang jelas.

Pada umumnya haih dianggap sebagai “kutukan” sehingga tidak mengherankan bila reaksi social yang kurang baik akan mewarnai sikap anak perempuan. Lagi pula, mengetahui bahwa anak lak-laki tidak mengalami gangguan-gangguan fisik seperti ini juga membawa akibat buruk pada sikap anak perempuan dan memperkuat anggapan bahwa wanita umumnya bernasib buruk.

Jerawat dan gangguan kulit lainnya merupakan sumber kegelisahan bagi anak laki-laki maupun anak perempuan. Suburnya jerawat membuat anak laki-laki semakin periahatin. Keprihatinan lebih besar pada anak laki-laki karena mereka sadar bahwa jerawat mengurangi daya tarik fisik dank arena mereka tidak dapat menggunakan kosmetik untuk menutupinya seperti anak perempuan.

Kecenderungan menjadi gemuk yang mengganggu sebagian besar anak puber selalu merupakan sumber keprihatinan selama tahun-tahun awal masa remaja. Namun dengan meningkatnya tinggi badan dan kerasnya usaha untuk mengendalikan nafsu makan dan hanya memakan “makanan-makanan sampingan” maka remaja yang lebih besar mulai mengurus diri. Disamping itu, pemilihan pakaian yang teliti dapat membantu dalam usaha memberikan kesan bahwa mereka lebih langsing dari sesungguhnya.

Adalah aneh bila remaja laki-laki maupun perempuan tidak prihati akan daya tarik fisik mereka. Seperti telah diterangkan sebelumnya hanya sedikit remaja yang puas dengan penampilan mereka dan banyak yang memikirkan suatu cara yang dapat memperbaiki penampilan mereka.

Keprihatinan timbul karena adanya kesadaran bahwa daya tarik fisik berperan penting dalam hubungan social. Para remaja menyadari lebih dari pada anak-anak, bahwa yang menarik biasanya diperlakukan dengn lebih baik daripada mereka yang kurang menarik. Mereka juga menyadari bahwa daya tarik fisik berperan penting dalam pemilihan pemimpin. Akibatnya kalu mereka merasa bahwa dirinya tidak semenarik seperti yang diharapkan pada waktu pertumbuhan belum berakhir, maka mereka akan mencari jalan untuk memperbaiki penampilannya. Beberapa remaja menghindari keadaan “sadar akan penampilan” sehingga menghabiskan banyak waktu dan pikiran untuk mencari jalan memperbaiki penampilan mereka.

  1. B. Perkembangan Motorik

Semakin matangnya perkembangan system syaraf otak yang mengatur otot memungkinkan berkembangnya kompetensi atau keterampilan motorik. Keterampilan motorik ini dibagi dua jenis, yaitu:

  1. Keterampilan atau gerak kasar, seperti berjalan, berlari, melompat, naik dan turun tangga; dan
  2. Keterampilan motorik halus atau keterampilan memanipulasi, seperti menulis, menggambar, memotong, melempar, dan menangkap bola, serta memainkan benda-benda atau alat-alat mainan (Audrey Curtis, 1998; Elizabeth Hurlock, 1956).]

Dari referensi lain, Perkembangan motorik ini, meliputi kemampuan gerak, koordinasi, keseimbangan dan peningkatan gerak.

  1. Gerak Lokomotor

Yang termasuk dalam gerak Lokomotor adalah Berjalan,berlari, melompat,meloncat dan merangkak

  1. Gerak Non Lokomotor

Yang termasuk dalam gerak Lokomotor adalah Keseimbangan, kelentukan dan kekuatan

  1. Gerak Manipulatif

Yang termasuk dalam gerak Lokomotor adalah Melempar Bola, menendang,dan menangkap.

Perkembangan keterampilan motorik merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan pribadi secara keseluruhan.

Kecakapan motorik yaitu kemampuan melakuakan koordinasi kerja system syaraf motorik yang menimbulkan reaksi dalam bentuk gerakan-gerakan atau kegiatan secara tepat, sesuai antara rangsangan dan responnya.

Dalam perkembangan masa remaja, perkembangan aspek motorik bukanlah aspek yang mengalami banyak perubahan, atau tidak terlihat ciri-ciri yang menonjol. Sebagaimana pertumbuhan internal lebih menonjol pada pribadi remaja dibandingkan dengan pertumbuhan eksternal, perkembangan fisik, emosi dan sosial pun pada masa ini jauh lebih menonjol dibandingkan dengan perkembangan motoriknya

Namun demikian, mengenai pengukuran keterampilan motorik remaja sering ditemui di universitas-universitas yang memberikan tes beberapa gerakan olahraga untuk calon mahasiswanya. Dalam tes ini dapat diketahui kemampuan-kemampuan motorik remaja seperti kecepatan, ketangkasan, kelenturan dan lain-lain yang dapat diukur diantaranya dengan:

(1)               Tes aerobik lari 2,4 km,

(2)               Tes shooting bola basket,

(3)               Tes passing bola voli,

(4)               Tes dribble sepakbola, dan

(5)               Tes renang.

Penyusunan suatu tes keterampilan olahraga harus memenuhi berapa persyaratan. Para ahli menyatakan persyaratan tersebut meliputi: kesahihan (validity), keajegan atau keterandalan (reliability), objektif, ekonomis, menarik, dan dapat dilaksanakan. (Kirkendall, 1980); (Abdullah, 1988); (Arikunto, 1991).

Suatu alat tes yang sahih berarti alat tes tersebut akan mengukur apa yang seharusnya diukur. (Safrit, 1981); (Kirkendall, 1980). Alat tes memiliki keterandalan atau keajegan yang tinggi apabila alat tes tersebut mengukur secara tetap dan apa yang diukur (Kirkendall, 1980; Safrit, 1981; Abdullah, 1988) dan alat tes tersebut dikatakan obyektif apabila tes tersebut dilakukan oleh beberapa orang, memperoleh hasil yang sama atau hampir sama (Kirkendall, 1980).

Dibawah ini kemampuan-memampuan motorik yang dapat dikuasai remaja disesuaikan dengan indicator-indikatornya.

Konstruk Meteri Indikator
Obstacel race Kelincahan
Melempar bolabasket Kekuatan otot
Tes kemampuan motorik umum dari Scott Lompat jauh tanpa awalan
  • Daya ledak
  • Kekuatan otot
Wall pass. Ketepatan
Lari cepat selama empat detik Kecepatan
Lompat jauh tanpa awalan
  • Daya ledak
  • Kekuatan otot
Tes kemampuan motorik umum dari Barrow Melempar bola softball Kekuaran otot
Zigzag run Kelincahan
Wall pass Ketepatan
Medicine ball put Kekuatan otot
Lari cepat 60 yard kecepatan
  1. C. Kesimpulan

Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan fisik remaja tersebut bukan saja menyangkut bertambahnya ukuran tubuh dan berubahnya proporsi tubuh, melainkan juga meliputi perubahan ciri-ciri yang terdapat pada system pencernaan, system peredaran darah, system pernafasan, system endokrin dan jaringan tubuh. Baik laki-laki maupun perempuan perubahan fisiknya mengikuti urutan-urutan tertentu.

Kondisi yang mempengaruhi perkembangan remaja adalah; pengaruh keluarga, pengaruh gizi, gangguan emosional, jenis kelamin, status sosial ekonomi, kesehatan, dan pengaruh bentuk tubuh. Disamping itu pengaruh lingkungan juga mempengaruhi perkembangan fisik remaja.

Daftar Isi

Desmita. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: Rosdakarya.

Hurlock, Elizabeth. 2003. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Yusuf, Syamsu. 2009. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Rosdakarya.

http://www.anakciremai.com/2008/07/makalah-psikologi-tentang-fisik-remaja.html

tugas perkembangan remaja dan pengukurannya

Posted in kuliah on Juli 4, 2010 by addin18
  1. A. Pengertian dan Sumber Tugas-tugas Perkembangan

Robert Havighrust (Adam & Gullota, 1983) melalui perspektif psikososial berpendapat bahwa periode yang beragam dalam kehidupan individu menuntut untuk menuntaskan tugas-tugas perkembangan yang khusus. Tugas-tugas ini berkaitan erat dengan perubahan kematangan, persekolahan, pekerjaan, pengalaman beragama, dan hal lainnya sebagai prasyarat untuk pemenuhan dan kebahagiaan hidupnya.

Selanjutnya Havighrust (1961) mengartikan tugas-tugas perkembangan itu sebagai berikut :

A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual, successful achievement of which leads to his happiness and to success with later task, while failure leads to unhappiness in the individual, disapproval by society and difficulty with later task.

Maksudnya, bahwa tugas perkembangan itu merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya; sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya.

Tugas-tugas perkembangan ini berkaitan dengan sikap, perilaku, atau keterampilan yang seyogianya dimiliki oleh individu, sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Hurlock (1981) menyebut tugas-tugas perkembangan ini sebagai ini sebagai social expectations. Dalam arti, setiap kelompok budaya mengharapkan anggotanya menguasai keterampilan tertentu yang penting dan memperoleh pola perilaku yang disetujui bagi berbagai usia sepanjang rentang kehidupan.

Setiap individu tumbuh dan berkembang selama perjalanan kehidupannya melalui beberapa periode atau fase-fase perkembangan. Setiap fase perkembangan mempunyai serangkaian tugas perkembangan yang harus diselesaikan dengan baik oleh setiap individu. Sebab, kegagalan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan pada fase tertentuakan memperlancar pelaksanaan tugas-tugas perkembangan pada fase berikutnya.

Seorang ahli psikologi yang dikenal luas dengan teori-teori tugas-tugas perkembangan adalah Robert J. Havighust (Hurlock, 1990). Dia mengatakan bahwa tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada saat atau sekitar satu periode tertentu dari kehidupan individu dan jika berhasil akan menimbulkan fase bahagia dan membawa keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi, kalau gagal akan menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya. Tugas-tugas perkembangan tersebut beberapa diantaranya muncul sebagai akibat kematangan fisik, sedangkan yang lain berkembang karena adanya aspirasi budaya , sementara yang lain lagi tumbuh dan berkembang karena nilai-nilali dan aspirasi individu.

Munculnya tugas-tugas perkembangan, bersumber pada faktor-faktor berikut :

  1. Kematangan fisik, misalnya (a) belajar berjalan karena kematangan otot-otot kaki; (b) belajar bertingkah laku, bergaul dengan jenis kelamin yang berbeda pada masa remaja karena kematangan organ-organ seksual.
  2. Tuntutan masyarakat secara kultural, misalnya (a) belajar membaca; (b) belajar menulis; (c) belajar berhitung; (d) belajar berorganisasi.
  3. Tuntutan dari dorongan dan cita-cita individu sendiri, misalnya (a) memilih pekerjaan; (b) memilih teman hidup.
  4. Tuntutan norma agama, misalnya (a) taat beribadah kepada Alloh; (b) berbuat baik kepada sesame manusia.

Tugas-tugas perkembangan mempunyai tiga macam tujuan yang sangat bermanfaat bagi individu dalam menyelesaikan tugas perkembangan, yaitu sebagai berikut:

  1. Sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari mereka pada usia-usia tertentu.
  2. Memberikan motivasi kepada setiap individu untuk melakukan apa yang diharapkan oleh kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang kehidupannya.
  3. Menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang akan mereka hadapi dan tindakan apa yang diharapkan dari mereka jika nantinya akan memasuki tingkat perkembangan berikutnya.

Tugas-tugas perkembangan ada yang dapat diselesaikan dengan baik, ada juga yang mengalami hambatan. tidak dapat diselesaikannya dengan baik suatu tugas perkembangan dapat menjadi suatu bahaya potensial yang menjadi penghambat penyelesaian tugas perkembangan, yaitu sebagai berikut :

  1. Harapan-harapan yang kurang tepat, baik individu maupun lingkungan sosial mengharapkan perilaku di luar kemampuan fisik maupun psikologis.
  2. Melangkahi tahap-tahap tertentu dalam perkembangan sebagai akibat kegagalan menguasai tugas-tugas tertentu.
  3. Adanya krisis yang dialami individu karena melewati satu tingkatan ke tingkatan yang lain.

  1. B. Pengertian Tugas-tugas Perkembangan Masa Remaja

Tugas-tugas perkembangan remaja adalah sikap dan perilaku dirinya sendiri dalam menyikapi lingkungan di sekitarnya. Perubahan yang terjadi pada fisik maupun psikologisnya menuntut anak untuk dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan dan tantangan hidup yang ada dihadapannya.

Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja yang disertai oleh berkembangnya kapasitas intelektual, stres dan harapan-harapan baru yang dialami remaja membuat mereka mudah mengalami gangguan baik berupa gangguan pikiran, perasaan maupun gangguan perilaku. Stres, kesedihan, kecemasan, kesepian, keraguan pada diri remaja membuat mereka mengambil resiko dengan melakukan kenakalan (Fuhrmann, 1990).

  1. C. Tujuan Tugas Perkembangan

Tugas-tugas dalam perkembangan mempunyai tiga macam tujuan yang sangat berguna. Pertama, sebagai petunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari mereka pada usia-usia tertentu. Misalnya, orang tua dapat dibimbing dalam mengajari anak-anak mereka yang masih kecil untuk menguasai berbagai keterampilan. Dengan pengertian bahwa masyarakat mengharapkan anak-anak menguasai keterampilan-keterampilan tersebut pada usia-usia tertentu dan bahwa penyesuaian diri mereka akan sangat dipengaruhi oleh seberapa jauh mereka berhasil melakukannya. Kedua, dalam memberi motivasi kepada setiap individu untuk melakukan apa yang diharapkan dari mereka oleh kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang kehidupan mereka. Dan akhirnya, menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang akan mereka hadapi dan tindakan apa yang diharapkan dari mereka kalau sampai pada tingkat perkembangan berikutnya.

Penyesuaian diri kepada situasi baru selalu sulit dan selalu disertai dengan bermacam-macam tingkat ketegangan emosional. Tetapi sebagian besar kesulitan dan ketegangan ini dapat dihilangkan kalau individu sadar akan apa yang akan terjadi kemudian dan secara bertahap mempersiapkan diri. Anak-anak yang menguasai keterampilan-keterampilan sosial, diperlukan untuk menghadapi kehidupan sosial remaja yang baru, akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lawan jenisnya bila mereka mencapai usia remaja, dan yang baru menginjak dewasa akan lebih mudah melewati masa peralihan ke masa usia pertengahan. Dan tidak terlampau mengalami ketegangan kalau mereka secara bertahap menciptakan kegiatan-kegiatan waktu senggang dengan berkurangnya tanggung jawab sebagai orang tua.

  1. D. Bahaya Tugas-tugas Perkembangan

Karena tugas-tugas perkembangan memegang peranan penting untuk menentukan arah perkembangan yang normal, maka apapun yang menghalangi penguasaan sesuatu dapat dianggap sebagai bahaya potensial. Ada tiga macam bahaya potensial yang umum berhubungan dengan tugas-tugas dalam perkembangan. Pertama, harapan-harapan yang kurang tepat, baik individu sendiri maupun lingkungan sosial mengharapkan perilaku yang tidak mungkin dalam perkembangan pada saat itu karena keterbatasan kemampuan fisik maupun psikologis.

Bahaya potensial kedua adalah melangkahi tahap tertentu dalam pengembangan sebagai akibat kegagalan menguasai tugas-tugas tertentu. Krisis yang dialami individu ketika melewati satu tingkatan ke tingkatan yang lain mengandung bahaya potensial ketiga yang umum yang muncul dari tugas-tugas itu sendiri. Sekalipun individu berhasil menguasai tugas pada suatu tahap secara baik, namun keharusan menguasai sekelompok tugas-tugas baru yang tepat untuk tahap berikutnya pasti akan membawa ketegangan dan tekanan kondisi-kondisi yang dapat mengarah pada suatu krisis. Misalnya, orang yang masa kerjanya akan berakhir sering mengalami “krisis pensiun”, dimana ia merasa bahwa prestise dan kepuasan pribadi yang berhubungan dengan pekerjaan akan berakhir juga.

Lambat atau cepat semua orang akan sadar bahwa mereka diharapkan menguasai tugas-tugas tertentu pada berbagai periode sepanjang hidup mereka. Setiap individu juga menjadi sadar bahwa dirinya “terlalu cepat”, “terlambat” atau “tepat” dalam kaitannya dengan tugas-tugas ini. Kesadaran inilah yang mempengaruhi sikap dan perilaku mereka sendiri, demikian pula sikap orang lain terhadap mereka.

  1. E. Tugas-tugas Perkembangan Remaja dan Pengukurannya

Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu adalah masa (fase) remaja. Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat (Konopka, dalam Pikunas, 1976; Kaczman & Riva, 1996).

Masa remaja ditandai dengan (1) berkembangnya sikap dependen kepada orangtua ke arah independen, (2) minat seksualitas; dan (3) kecenderungan untuk merenung atau memperhatikan diri sendiri, nilai-nilai etika, dan isu-isu moral (Salzman dan Pikunas, 1976).

Erikson (Adams & Gullota, 1983:36-37; Conger, 1977: 92-93) berpendapat bahwa remaja merupakan masa remaja merupakan masa berkembangnya identity. Identity merupakan vocal point dari pengalaman remaja, karena semua krisis normatif yang sebelumnya telah memberikan kontribusi kepada perkembangan identitas ini. Erikson memandang pengalaman hidup remaja berada dalam keadaan moratorium, yaitu suatu periode saat remaja diharapkan mampu mempersiapkan dirinya untuk masa depan, dan mampu menjawab pertanyaan ‘siapa saya?’. Dia mengingatkan bahwa kegagalan remaja untuk mengisi atau menuntaskan tugas ini akan berdampak tidak baik bagi perkembangan dirinya.

Apabila remaja gagal dalam mengembangkan rasa identitasnya, maka remaja akan kehilangan arah, bagaikan kapal yang kehilangan kompas. Dampaknya, mereka mungkin akan mengembangkan perilaku yang menyimpang (delinquent), melakukan kriminalitas, atau menutup diri (mengisolasi diri) dari masyarakat.

Mulai dari Erikson, banyak para ahli psikologi memandang bahwa identity formation (pembentukan identitas/jati diri) merupakan tugas perkembangan utama bagi remaja. Jika remaja gagal atau tidak mendapat kepuasan dalam menjawab pertanyaan ‘Siapa saya?’ dan ‘Mengapa saya?’ maka mereka akan mengalami ‘peperangan’ dlam dirinya.

Pikunas juga mengemukakan pendapat William Kay, yaitu bahwa tugas perkembangan utama bagi remaja adalah memperoleh kematangan sistem moral untuk membimbing perilakunya. Kematangan remaja belumlah sempurna, jika tidak memiliki kode moral yang dapat diterima secara universal.

Semua tugas perkembangan pada masa remaja dipusatkan pada pusaka penanggulangan sikap dan pola perilaku yang kekanak-kanakan dan mengadakan persiapan untuk menghadapi masa dewasa. Menurut Hurlock (1991) tugas perkembangan pada masa remaja adalah sebagai berikut:

  1. Berusaha mampu menerima keadaan fisiknya.
  2. Berusaha mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa.
  3. Berusaha mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis.
  4. Berusaha mencapai kemandirian emosional
  5. Berusaha mencapai kemandirian ekonomi.
    1. Berusaha mengembangkan konsep dan keterampilan-keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melukukan peran sebagai anggota masyarakat.
    2. Berusaha memahami dan mengintemalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua.
    3. Berusaha mengembangkan perilaku tanggungjawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa.
    4. Berusaha mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.
      1. Berusaha memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.

Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku anak. Akibatnya, hanya sedikit anak laki-lakilah dan anak perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugas-tugas tersebut selama awal masa remaja, apalagi mereka yang matangnya terlambat. Kebanyakan harapan ditumpukkan pada hal ini adalah bahwa remaja muda akan meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku. Penelitian singkat mengenai tugas-tugas perkembangan masa remaja yang penting akan menggambarkan seberapa jauh perubahan yang harus dilakukan dan masalah yang timbul dari perubahan itu sendiri. Pada dasarnya, pentingnya menguasai tugas-tugas perkembangan dalam waktu yang relatif singkat yang dimiliki oleh remaja Amerika sebagai akibat perubahan usia kematangan yang sah menjadi delapan belas tahun, menyebabkan banyak tekanan yang mengganggu para remaja.

Tugas-tugas perkembangan fase remaja ini sangat berkaitan dengan perkembangan kognitifnya, yakni fase operasional formal. Kematangan pencapaian fase kognitif tingkat ini akan sangat membantu kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangannya itu dengan baik. Agar dapat memenuhi dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan ini, remaja memeriukan kemampuan kreatif. Kemampuan kreatjf ini banyak diwamai oleh perkembangan kognitifhya.

Menurut Havighurst (Hurlock,1990), ada sepuluh tugas perkembangan remaja yang harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Untuk membantu memahami tugas-tugas perkembangan tersebut, masing-masing dapat dikaji dari aspek-aspek hakikat tugas, dasar biologis, dan dasar psikologis, yaitu sebagai berikut :

  1. 1. Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita.

Karena adanya pertentangan dengan lawan jenis yang sering berkembang selama akhir masa kanak-kanak dan masa puber, maka mempelajari hubungan baru dengan lawan jenis berarti harus mulai dari nol dengan tujuan untuk mengetahui hal ihwal lawan jenis dan bagaimana harus bergaul dengan mereka. Sedangkan pengembangan hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya sesama jenis juga tidak mudah.

  1. Hakikat Tugas

Mempelajari peran anak perempuan sebagai wanita dan anak laki-laki sebagai pria, menjadi dewasa diantara orang dewasa, dan belajar memimpin tanpa menekan orang lain.

Tujuan :

(1) Belajar melihat kenyataan anak wanita sebagai wanita, dan anak pria sebagai pria;

(2) Berkembang menjadi orang dewasa diantara orang dewasa lainnya;

(3) Belajar bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama;

(4) Belajar memimpin orang lain tanpa mendominasinya.

  1. Dasar Biologis

Secara biologis, manusia terbagi menjadi dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Kematangan seksual dicapai selama masa remaja. daya tarik seksual menjadi suatu kebutuhan yang dominan dalam kehidupan remaja. Hubungan sosial dipengaruhi oleh kematangan yang telah dicapai.

  1. Dasar Psikologis

Pada akhir masa anak, anak-anak lebih cepat perkembangannya dan menaruh perhatian untuk bergaul dengan orang lain
(teman sebayanya). Pertama dia bergaul dengan kelompok yang terbatas bersama teman yang sama jenis kelaminnya. Masa ini sering disebut “Gang Age” bagi pria, meskipun pada anak wanita pun gejala ini ada, namun tidak sekuat pria. Mereka belajar berperilaku sebagaimana orang dewasa berperilaku dengan sesamanya, seperti dalam mengorganisasikan kegiatan-kegiatan olahraga dan sosial, memilih pemimpin, dan menciptakan peraturan dalam kelompok. Dengan jenis kelamin yang berbeda, mereka belajar keterampilan-keterampilan sosial orang dewasa, seperti berkomunikasi yang baik dan memimpin kelompok.

Pada usia 14 sampai 16 tahun, mereka sudah cukup memiliki keterampilan, dan mulai meninggalkan kelompok besar, serta membentuk kelompok-kelompok kecil, tiga, dua, atau satu orang, sehingga pergaulan mereka menjadi lebih intim (akrab). Satu hal yang sangat mempengaruhi remaja adalah dorongan untuk mendapatkan persetujuan kelompok (konformitas).

Keberhasilan remaja dalam menyelesaikan tugas perkembangan ini mengantarkannya ke dalam suatu kondisi penyesuaian sosial yang baik dalam keseluruhan hidupnya. Namun apabila gagal, maka dia akan mengalami ketidakbahagiaan atau kesulitan dalam kehidupannya di masa dewasa, seperti ketidakbahagiaan dalam pernikahan, kurang mampu bergaul dengan orang lain, bersifat kekanak-kanakan, dna melakukan dominasi secara sewenang-sewenang.

Dalam kelompok sejenis, remaja belajar untuk bertingkah laku sebagaimana orang dewasa. adapun dalam kelompok lain jenis, remaja belajar menguasai keterampilan sosial. Remaja putri umumnya lebih cepat matang daripada remaja putra dan cenderung lebih tertarik kepada remaja putra yang usianya beberapa tahun lebih tua. Kecenderungan seperti ini akan berlangsung sampai mereka kuliah di perguruan tinggi. Keberhasilan dalam melaksanakan tugas perkembangan akan membawa penyesuaian-penyesuaian yang lebih baik di sepanjang kehidupannya.

  1. Dasar Kebudayaan

Kebudayaan dapat membentuk pola hubungan sosial remaja. Pola-pola ini sangat beragam dari masyarakat satu ke masayarakat lainnya. Pola interaksi (pergaulan remaja di Negara maju, relatif berbeda dengan remaja di Negara berkembang; begitupun dengan pola pergaulan remaja yang bermukin di perkotaan dengan yang di pedesaan. Pola pergaulan itu, baik yang menyangkut persahabatan maupun percintaan.

  1. Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan.

1. Tinggi

Indikatornya:

Memiliki sahabat dekat dua orang atau lebih.

Sebagai anggota “klik” dari jenis kelamin yang sama secara mantap.

Dipercaya oleh teman sekelompok dalam posisi tanggung jawab tertentu.

Memiliki penyesuaian sosial yang baik.

Banyak meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan teman sebaya.

Berpartisipasi dalam acara teman sebaya.

Memahami dan dapat melakukan keterampilan sosial dalam bergaul dengan teman sebaya.

Mau bekerja sama dengan orang lain.

Berusaha memahami pandangan orang lain dalam diskusi kelompok.

Kadang-kadang memberikan tepuk tangan kepada lawan dalam suatu permainan.

  1. Sedang

Indikatornya:

Memiliki seorang teman dekat.

Menjadi anggota “klik” atau “gank” namun kurang mendapat perhatian.

Memiliki kemampuan sosial yang sedang.

Kadang-kadang mau menghadiri acara dengan teman lawan jenis.

Merasa tidak percaya diri, apabila berada dalam kelompok yang beragam.

Mempunyai peran yang netral dalam kegiatan kelompok.

3. Rendah

Indikatornya:

Tidak memiliki teman akrab.

Tidak pernah diundang untuk menghadiri acara kelompok.

Sering dikambing hitamkan oleh kelompok sebaya.

Sering balas dendam dengan sikap bermusuhan.

Berperilaku penyimpangan penyesuaian sosial.

Sangat malu bergaul dengan lawan jenis.

  1. 2. Mencapai peran sosial pria dan wanita.

Menerima peran seks dewasa yang diakui masyarakat tidaklah mempunyai banyak kesulitan bagi anak laki-laki, mereka telah didorong dan diarahkan sejak awal masa kanak-kanak. Tetapi halnya berbeda bagi anak perempuan. Sebagai anak-anak, mereka diperbolehkan bahkan didorong untuk memainkan peran sederajat, sehingga usaha untuk mempelajari peran feminin dewasa yang diakui masyarakat dan menerima peran tersebut, seringkali merupakan tugas pokok yang memerlukan penyesuaian diri selama bertahun-tahun.

  1. Hakikat Tugas

Mempelajari peran sosial sesuai dengan jenis kelaminnya sebagai pria atau wanita. Remaja dapat menerima dan belajar peran sosial sebagai pria atau wanita dewasa yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.

  1. Dasar Biologis

Ditinjau dari kekuatan fisik remaja putri menjadi orang yang lebih lemah dibandingkan dengan remaja putra. Namun, remaja putri memiliki kekuatan lain meskipun memiliki kelemahan fisik.

  1. Dasar Psikologis

Peranan sosial pria dan wanita memang berbeda, remaja putra perlu menerima peranan sebagai seorang pria dan remaja putri perlu menerima peranan sebagai seorang wanita. Meskipun demikian, sering terjadi kesulitan pada remaja putri, kadang-kadang cenderung lebih mengutamakan ketertarikannya kepada karir, cenderung mengagumi ayahnya dan kakaknya, serta ingin bebas dari peranan sosialnya sebagai istri atau ibu yang memerlukan dukungan suami.

  1. Dasar Kebudayaan

Peran wanita terus berubah, terutama dalam masyarakat perkotaan. Peran wanita sekarang lebih diberikan kebebasan daripada para generasi wanita sebelumnya. Sebagian di antara mereka dapat memilih secara mandiri untuk bekerja dalam bidang bisnis atau suatu orofesi tertentu, yang sebelumnya mustahil dapat dilakukan.

  1. Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan

1)      Tinggi

Indikatornya :

Remaja pria matang seksualnya dan melalui siklus perkembangan pubertas menyenangi acara-acara yang diadakan kelompok yang beragam jenis kelamin, menyenangi lawan jenis, memelihara diri secara baik, aktif dalam berolahraga, dan mempunyai minat untuk mempersiapkan diri dalam suatu pekerjaan yang sesuai dengan jenis kelaminnya.

Remaja wanita memiliki fisik yang matang dan bersifat feminin dalam penampilan dan berpakaian, menunjukan sifat mau menerima pernikahan dan peran sebagai istri/ibu, dan menunjukan minat dan sikap senangnya untuk memelihara bayi.

2)      Sedang

Indikatornya :

Remaja pria matang seksualnya namun kurang mempunyai perhatian terhadap remaja wanita.

Mempunyai perhatian untuk mengahadiri acara dalam kelompok yang beragam jenis kelaminnya.

Menampilkan ciri-ciri maskulinitas, namun masih ragu, takut atau menolak perilaku heteroseksualnya.

Hanya menyenangi olahraga yang ringan, dan kurang perhatian untuk memelihara diri.

3)      Rendah

Indikatornya:

Remaja pria tidak matang fisiknya, tidak mempunyai interes terhadap remaja wanita, tidak menyenangi olahraga, tubuh atau penampilannya kurang maskulin, dan perhatian untuk memelihara dirinya seperti 3 atau 4 tahun dibawahnya.

Remaja wanita kematangannya terlambat, mungkin tidak menstruasi, penampilannya seperti anak kecil, penampilannya tomboy, dan senang bergaul dengan pria.

  1. 3. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakannya secara efektif.

Seringkali sulit bagi para remaja untuk menerima keadaan fisiknya bila sejak kanak-kanak mereka telah mengagungkan konsep meraka tentang penampilan diri pada waktu dewasa nantinya. Diperlukan waktu untuk memperbaiki konsep ini dan untuk mempelajari cara-cara memperbaiki penampilan diri sehingga lebih sesuai dengan apa yang dicita-citakan.

  1. Hakikat Tugas

Menjadi bangga atau sekurang-kurangnya toleran dengan kondisi fisiknya sendiri, menjaga dan melindungi, serta menggunakannya secara efektif.

  1. Dasar Biologis

Siklus pertumbuhan remaja melibatkan serangkaian perubahan endoctrin dengan berkembangnya ciri-ciri seksual dan fisik orang dewasa. Perkembangan remaja disertai dengan pertumbuhan fisik dan seksual. Laju pertumbuhan tubuh gadis lebih cepat apabila dibandingkan pemuda. Waktunya kini tiba bagi si remaja untuk mempelajari bagaimana jadinya fisiknya kelak, menjadi tinggi, pendek, besar atau kurus. Umumnya gadis yang berusia 15 sampai 16 tahun, tubuhnya mencapai bentuk akhir. Adapun pada pemuda keadaan ini akan dicapai sekitar usia 18 tahun.

  1. Dasar Psikologis

Terjadinya perubahan bentuk tubuh yang disertai dengan perubahan sikap dan minat remaja. Remaja suka memperhatikan perubahan tubuh yang sedang dialaminya sendiri. Remaja putri lebih suka berdandan dan berhias untuk menarik lawan jenisnya manakala dia sudah mulai menstruasi.

  1. Dasar Kebudayaan

Masyarakat sangat memperhatikan penampilan fisik dan pemeliharaannya. Remaja pria dan wanita di ajar untuk menampilkan fisiknya yang menarik, dan berkembang melebihi teman sebayanya.

  1. Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan

1)      Tinggi

Indikatornya :

Mampu mengarahkan diri dan memelihara kesehatan secara rutin.

Memiliki keterampilan dalam berolahraga.

Mempersepsi tubuh dan jenis kelaminnya secara tepat.

Merasa senang untuk menerima dan memanfaatkan fisiknya.

Memiliki pengetahuan tentang reproduksi.

Menerima penampilan fisiknya secara feminin (wanita) dan maskulin (pria).

Memelihara dirinya secara hati-hati.

2)      Sedang

Indikatornya :

Mampu mengarahkan diri dalam memelihara kesehatan, namun tidak dalam waktu lama.

Memiliki persepsi yang sedang terhadap tubuh manusia dan keragaman seksual.

Kadang-kadang bersikap menolak terhadap tubuhnya atau jenis kelaminnya.

Memiliki pengetahuan tentang reproduksi, namun memiliki rasa takut yang tidak rasional tentang hal itu (bagi wanita).

Tubuhnya matang dan memiliki sedikit keterampilan untuk memelihara rumah.

3)      Rendah

Indikatornya :

Kurang memiliki kebiasaan untuk memelihara kesehatan, tidak dapat mengendalikan diri.

Cenderung fisiknya kurang matang; memiliki distorsi persepsi tenang tubuhnya dan keragaman seks.

Menampakan ketidaksenangan terhadap tubuhnya.

Merasa cemas tentang kematangannya atau penampilan fisiknya yang menyimpang.

Tidak meiliki pengatahuan yang tepat tentang reproduksi.

Menyatakan kesenangannya untuk menjadi lawan jenis kelaminnya.

  1. 4. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya.

Bagi remaja yang sangat mendambakan kemandirian, usaha untuk mandiri secara emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lain merupakan tugas perkembangan yang mudah. Namun, kemandirian emosi tidaklah sama dengan kemandirian perilaku. Banyak remaja yang ingin mandiri, juga ingin dan membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari ketergantungan emosi pada orang tua atau orang-orang dewasa lain. Hal ini menonjol pada remaja yang statusnya dalam kelompok sebaya tidak meyakinkan atau yang kurang memiliki hubungan yang akrab dengan anggota kelompok.

  1. Hakikat Tugas

Membebaskan sifat kekanak-kanakan yang selalu menggantungkan diri pada orang tua, mengembangkan sikap perasaan tertentu kepada orang tua tanpa menggantungkan diri padanya, dan mengembangkan sikap hormat kepada orang dewasa tanpa menggantungkan diri padanya.

  1. Dasar Biologis

Secara biologis, remaja sudah dapat mencapai tugas perkembangan ini, karena mereka sudah memperoleh kematangan fisiknya. Kematangan seksual individu. Individu yang tidak memperoleh kepuasan di dalam keluarganya akan keluar untuk membangun ikatan emosional dengan teman sebaya. Ini bisa berlangsung tanpa mengubah ikatan emosional yang meningkat terhadap orang tua.

  1. Dasar Psikologis

Pada masa ini, remaja mengalami sikap ambivalen (dua perasaan yang bertentangan) terhadap orang tuanya. Remaja ingin bebas, namun dirasa bahwa dunia dewasa itu cukup rumit dan asing baginya. Dalam keadaan semacam ini, remaja masih mengharapkan perlindungan orang tua, sebaliknya orang tua menginginkan anaknya berkembang menjadi lebih dewasa. Keadaan inilah yang menjadikan remaja sering memberontak pada otoritas orang tua. Guru adalah salah satu tempat bertumpu. Disinilah peranan guru cukup besar dalam rangka proses penyapihan psikologis remaja. Kegagalan dalam melaksanakan tugas cenderung dapat diasosiasikan dengan kegagalan dalam membina hubungan yang bersifat dewasa dengan teman sebaya. Menurut Douvan (Ambron, 1981:507), kemandirian emosional (emotional autonomy) merupakan salah satu aspek dari tiga perkembangan kemandirian remaja, yaitu (1) kemandirian emosi yang ditandai oleh kemampuan memecahkan ketergantungannya (sifat kekanak-kanakannya) dari orangtua dan mereka dapat memuaskan kebutuhan kasih sayang dan keakraban di luar rumahnya; (2) kemandiriabn berperilaku, yaitu kemampuan untuk mengambil keputusan tentang tingkah laku pribadinya, seperti dalam memilih pakaian, sekolah, dan pekerjaan; dan (3) kemandirian dalam nilai.

  1. Dasar Kebudayaan

Sebenarnya ada dua penyebab konflik antar generasi dalam masyarakat, yaitu

(1) Perubahan sosial yang sangat cepat, dan

(2) Ikatan pernikahan yang cenderung tertutup dan tidak terikat lagi kepada orang tua.

e)   Tingkat Pencapaian Tugas Perkembangan

1) Tinggi

Indikatornya :

Memiliki tujuan hidup yang realistik.

Mampu mengembangkan persepsi yang positif terhadap orang lain dan mencoba berintegrasi dengan keluarga sendiri secara mandiri.

Mengembangkan kemampuan untuk mengemukakan dan mempertahankan pendapatnya sendiri.

Mampu membangun hubungan dengan beberapa orang dewasa muda dalam masyarakat.

Ikut berpartisipasi dengan orang dewasa dalam kegiatan masyarakat.

Menerima konsekuensi dari kesalahan tanpa mengeluh.

Berani bepergian sendiri.

Dapat memilih dan membeli pakaian sendiri.

Melakukan sejumlah kegaiatan tertentu yang disenanginya tanpa meminta persetujuan dari guru atau orangtua.

Meminta nasihat orangtua hanya pada saat mengalami masalah yang rumit.

Mampu menghadapi kegagalan dengan sikap rasional.

2) Sedang

Indikatornya :

Ego idealnya dipengaruhi dewasa muda atau figur yang tidak nyata atau glamor.

Sikapnya belum ajeg antara desakan untuk menjadi dewasa dengan sikap kekanak-kanakan.

Memerlukan dorongan dewasa pada saat megerjakan tugas baru.

Menolak secara keras terhadap perintah/keinginan orangtua dalam berpakaian, menggunakan waktu senggang, memilih teman dan menggunakan uang. mengalami kerinduan pada saat jauh dari orang tua.

3) Rendah

Indikatornya:

Ego idealnya sangat ditentukan oleh orangtua.

Menghabiskan banyak waktu senggangnya dengan orangtua.

Menerima otoritas orangtua atau orang dewasa lainnya untuk menyusun kegiatan.

Ingin ditemani keluarga apabila pergi keluar jauh dari rumah.

Bersifat pemalu.

Selalu mencari dukungan dari orangtua dalam menghadapi masalah.

Tidak mampu menggunakan pikirannya untuk hal-hal yang penting bagi dirinya.

Tidak mampu menjadi manusia yang mandiri dalam kehidupan masyarakat.

Mengalami kesulitan dalam bergaul dengan teman sebayanya.

Mengalami kesulitan dalam menempuh pernikahan.

  1. 5. Mencapai jaminan kebebasan ekonomis.

Kemandirian ekonomis tidak dapat dicapai sebelum remaja memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja. Kalau remaja memilih pekerjaan yang memerlukan periode pelatihan yang lama, tidak ada jaminan untuk memperoleh kemandirian secara ekonomis bilamana mereka secara resmi menjadi dewasa nantinya. Secara ekonomis mereka masih harus tergantung selama beberapa tahun sampai pelatihan yang diperlukan untuk bekerja selesai dijalani.

  1. Hakikat Tugas

Merasakan kemampuan membangun kehidupan sendiri. Tujuan tugas perkembangan ini adalah agar remaja mampu menciptakan suatu kehidupan (mata pencaharian). Tugas ini sangat penting (mendasar) bagi remaja pria, namun tidak begitu penting bagi remaja pria.

  1. Dasar Biologis

Tidak ada dasar biologis yang berarti untuk pelaksanaan tugas ini, meskipun kekuatan dan keterampilan fisik sangat bermanfaat untuk mencapai tugas ini.

  1. Dasar Psikologis

Berkembang menjadi dewasa merupakan keinginan para remaja. Ciri atau simbol perkembangan yang diinginkannya itu adalah kemampuan untuk menjadi orang dewasa yang memiliki pekerjaan yang layak. Studi terhadap remaja pada masa depresi (ekonomi) pada tahun 1930-an menunjukkan bahwa pengangguran dan memperoleh kemapanan ekonomi merupakan hal yang sangat dicemaskan atau ditakuti oleh para remaja. Studi Berkaitan erat dengan hasrat untuk berdiri sendiri.

  1. Dasar Kebudayaan

Dalam masyarakat sederhana kemandirian ekonomi bukan merupakan tugas perkembangan, namun dalam masyarakat modern kehidupan bersifat kompleks, termasuk dalam dunia kerja, sehingga remaja akan mengalami kesulitan, manakala tidak mempersiapkan diri secara matang.

  1. 6. Memilih dan menyiapkan lapangan pekerjaan.
  2. Hakikat Tugas

Memilih pekerjaan yang memerlukan kemampuan serta mempersiapkan pekerjaan.

  1. Dasar Biologis

Ukuran dan kekuatan badan pada sekitar usia 18 tahun sudah cukup kuat dan tangkas untuk memiliki dan menyiapkan diri memperoleh lapangan pekerjaan.

  1. Dasar Psikologis

Dari hasil penelitian mengenai minat di kalangan remaja, ternyata pada kaum remaja berusia 16-19 tahun, minat utamanya tertuju kepada pemilihan dan mempersiapkan lapangan pekerjaan. Sebenarnya prestasi siswa di sekolah, tentang apa yang dicita-citakannya, kemana akan melanjutkan pendidikannya, secara samar-samar dapat menjadi gambaran tentang lapangan pekerjaan yang diminatinya.

Alizabeth B. Hurlock (1981) mengemukakan bahwa anak SMA mulai memikirkan masa depan mereka secara sungguh-sungguh. Anak laki-laki biasanya lebih bersungguh-sungguh dalam hal pekerjaan dibandingkan dengan anak perempuan yang memandang pekerjaan sebagai pengisi waktu sebelum menikah.

  1. 7. Persiapan untuk memasuki kehidupan berkeluarga.

Kecenderungan kawin muda menyebabkan persiapan perkawinan merupakan tugas perkembangan yang paling penting dalam tahun-tahun remaja. Meskipun tabu sosial mengenai perilaku seksual yang berangsur-angsur mengendur dapat mempermudah persiapan perkawinan dalam aspek seksual, tetapi aspek perkawinan yang lain hanya sedikit dipersiapkan di rumah, di sekolah dan di perguruan tinggi. Dan lebih-lebih lagi persiapan tentang tugas-tugas dan tanggung jawab kehidupan keluarga. Kurangnya persiapan ini merupakan salah satu penyebab dari “masalah yang tidak terselesaikan” yang oleh remaja dibawa ke dalam masa dewasa.

  1. Hakikat Tugas

Mengembangkan sikap yang positif terhadap kehidupan berkeluarga. Khusus untuk remaja putri termasuk di dalamnya kesiapan untuk mempunyai anak.

  1. Dasar Biologis

Kematangan seksual yang normal yang menumbuhkan ketertarikan antar jenis kelamin.

  1. Dasar Psikologis

Sikap remaja terhadap perkawinan sangat bervariasi. Ada yang menunjukkan rasa takut, tetapi ada juga yang menunjukkan sikap bahwa perkawinan justru merupakan suatu kebahagiaan hidup.

  1. Dasar Kebudayaan

Pernikahan merupakan lembaga kehidupan sosial yang penting, karena melalui pernikahan umat manusia dapat terpelihara harkat dan martabatnya sebagai makhluk yang mulia di hadapan Alloh SWT. Pernikahan merupakan lembaga sacral dan yang mengesahkan jalinan/hubungan cinta kasih dua insane yang berbeda jenis kelaminnya.

Secara teoritis, masa remaja dapat dibagi menjadi dua fase, yaitu fase pertama adalah pubertas dan fase kedua adalah adolesens. Fase pertama menitikberatkan pada perkembangan fisik dan seksual, serta pengaruhnya terhadap gejala-gejala psikososial. Sedangkan fase kedua menitikberatkan pada aspek-aspek nilai, moral, pandangan hidup, dan hubungan kemasyarakatan. (Siti Rahayu Haditono, 1991).

Berdasarkan pada pembagian masa remaja ke dalam dua fase tersebut, pembahasan tugas perkembangan remaja berkenaan dengan kehidupan berkeluarga menitikberatkan pada masa remaja fase keduayaitu fase adolesens. Pada fase adolesens, tugas perkembangan yang berkaitan dengan kehidupan keluarga merupakan tugas yang sangat penting dan harus dapat diselesaikan dengan baik meskipun dirasakan sangat berat. Ini cukup beralasan karena selama tahun pertama dan kedua perkawinan, pasangan muda harus melakukan penyesuaian diri satu sama lain terhadap anggota keluarga masing-masing. Sementara itu ketegangan emosional masih sering timbul pada mereka.

Dari sekian banyak masalah penyesuaian diri dalam kehidupan berkeluarga atau perkawinan, ada empat unsur utama yang paling penting bagi kebahagiaan perkawinan, yaitu :

Penyesuaian dengan pasangan ;

Penyesuaian seksual ;

Penyesuaian keuangan ; dan

Penyesuaian dengan pihak keluarga masing-masing.

Berkaitan dengan empat penyesuaian diri remaja dalam kehidupan keluarga dan perkawinan, ada sejumlah faktor yang memengaruhinya, yaitu sebagai berikut :

  1. Faktor yang memengaruhi penyesuaian terhadap pasangan ialah konsep tentang pasangan yang ideal, pemenuhan kebutuhan, kesamaan latar belakang, minat, kepentingan bersama, kepuasan nilai, konsep peran, dan perubahan dalam pola hidup.
  2. Faktor penting yang memengaruhi penyesuaian seksual ialah perilaku seksual, pengalaman seksual masa lalu, dorongan seksual, pengalaman seksual martial awal, serta sikap terhadap penggunaan alat kontrasepsi.
  3. Faktor yang memengaruhi penyesuaian diri dengan pihak keluarga pasangan ialah seterotipe tradisional, keinginan untuk mandiri, fanatisme keluarga, mobilitas sosial, anggota keluarga berusia lanjut, dan bantuan keuangan untuk keluarga pasangan.

Masih dalam konteks penyesuian diri dalam kehidupan berkeluarga dan perkawinan, ada sejumlah kriteria keberhasilan penyesuaian kehidupan berkeluarga dan perkawinan, yaitu :

Kebahagiaan pasangan suami istri ;

Hubungan yang baik antara anak dan orang tua ;

Penyesuaian yang baik dari anak-anak ;

Kemampuan untuk memperoleh kepuasan dari perbedaan pendapat;

Kebersamaan ;

Penyesuaian yang baik dalam masalah keuangan ; dan

Penyesuaian yang baik dari pihak keluarga pasangan.

  1. 8. Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep yang penting   untuk kompetensi kewarganegaraan.

Sekolah dan pendidikan tinggi menekankan perkembangan keterampilan intelektual dan konsep yang penting bagi kecakapan sosial. Namun, hanya sedikit remaja yang mampu menggunakan keterampilan dan konsep ini dalam situasi praktis. Mereka yang aktif dalam berbagai aktivitas ekstrakurikuler menguasai praktek demikian namun mereka yang tidak aktif –karena harus bekerja setelah sekolah atau karena tidak diterima oleh teman-teman- tidak memperoleh kesempatan ini.

  1. Hakikat Tugas

Mengembangkan konsep tentang hukum, politik, ekonomi, dan kemayarakatan.

  1. Dasar Biologis

Pada usia 14 tahun, sistem syaraf dan otak telah mencapai tahap ukuran kedewasaan.

  1. Dasar Psikologis

Berkembangnya kemampuan kejiwaan yang cukup besar dan perbedaan individu dalam perkembangan kejiwaan yang sangat erat hubungannya dengan perbedaan dalam penguasaan bahasa, pemaknaan, perolehan konsep-konsep, minat, dan motivasi.

  1. Dasar Kebudayaan

Kehidupan modern yang kompleks menuntut individu agar memiliki kemapuan berpikir yang tinggi agar dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.

  1. 9. Mencapai dan mengharapkan tingkah laku sosial yang    bertanggungjawab.

Erat masalahnya dengan masalah pengembangan nilai-nilai yang selaras dengan dunia nilai orang dewasa yang akan dimasuki, adalah tugas untuk mengembangkan perilaku sosial yang bertanggung jawab. Sebagian besar remaja ingin diterima oleh teman-teman sebaya, tetapi hal ini seringkali dianggap tidak bertanggung jawab. Misalnya, kalau menghadapi ujian, maka remaja harus memilih antara standar dewasa dan standar teman-teman.

  1. Hakikat Tugas

Berpartisipasi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat dan mampu menjunjung nilai-nilai masyarakat dalam bertingkah laku.

  1. Dasar Biologis

Tugas ini tidak terlalu menuntut dasar biologis. Tugas ini berkaitan erat dengan pengaruh masyarakat terhadap individu, kecuali jika menerima adanya insting sosial pada manusia atau memandang bagus tingkah laku remaja merupakan sublimasi dari dorongan seksual.

  1. Dasar Psikologis

Proses untuk mengikatkan diri individu kepada kelompok sosialnya telah berlangsung sejak individu dilahirkan.Sejak kecil anak diminta untuk belajar menjaga hubungan baik dengan kelompok, berpartisipasi sebagai anggota kelompok sebaya, dan belajar bagaimana caranya berbuat sesuatu untuk kelompoknya. Ini berlangsung sampai dengan individu itu mencapai fase remaja.

  1. Dasar Kebudayaan

Dalam masyarakat modern kurang memperhatikan upacara-upacara yang dapat menunjang perkembangan rasa bertanggung jawab pada remaja, apabila dibandingkan dengan masyarakat primitif yang menetapkan remaja sebagai pewaris adat yang bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup bangsanya.

  1. 10. Memperoleh suatu himpunan nilai-nilai dan sistem etika sebagai  pedoman tingkah laku.

Sekolah dan pendidikan tinggi juga mencoba untuk membentuk nilai-nilai yang sesuai dengan nilai-nilai dewasa; orang tua berperan banyak dalam perkembangan ini. Namun bila nilai-nilai dewasa bertentangan dengan nilai-nilai teman sebaya, maka remaja harus memilih yang terakhir bila mengharapkan dukungan teman-teman yang menentukan kehidupan sosial mereka.

  1. Hakikat Tugas

Membentuk suatu himpunan nilai-nilai sehingga memungkinkan remaja mengembangkan dan merealisasikan nilai-nilai, mendefinisikan posisi individu dalam hubungannya dengan individu lain, dan memegang suatu gambaran dunia dan suatu nilai untuk kepentingan hubungan dengan individu lain.

  1. Dasar Psikologis

Banyak remaja yang menaruh perhatian pada problem filosofis dan agama. Ini diperoleh remaja melalui identifikasi dan imitasi pribadi ataupun penalaran dan analisis tentang nilai.

  1. Dasar Kebudayaan

Sebagian besar masyarakat modern hidup dalam kehidupan kebobrokan moral, manusia modern kurang mengakui hukum moral tuhan.Beriman dan bertakwa kepada tuhan Yang Maha Esa.

Nilai-nilai Akidah, Ibadah dan Ahlakul Karimah Bagi Umat Muslim

(Keyakinan dan Pendalaman)

NILAI-NILAI AGAMA PROFIL SIKAP & PERILAKU REMAJA
Akidah (keyakinan)
  1. Meyakini Allloh sebagai Pencipta.
  2. Meyakini bahwa agama sebagai pedoman hidup.
  3. Meyakini bahwa Alloh Maha Melihat.
  4. Meyakini hari akhirat sebagai hari pembalasan amal manusia.
  5. Meyakini bahwa Alloh Maha Penyayang dan Pengampun.
Ibadah dan ahlakul karimah
  1. Melaksanakan ibadah (mahdoh) seperti salat, shaum, berdoa, dll.
  2. Membaca kitab suci dan mendalaminya.
  3. Mengendalikan hawa nafsu dari sikap dan perbuatan yang diharamkan Alloh.
  4. Bersikap hormat kepada orang tua dan orang lain.
  5. Menjalin silaturahim dengan orang lain.
  6. Bersyukur.
  7. Bersabar.
  8. Memelihara kebersihan.
  9. Memiliki etos belajar yang tinggi.

Tidak semua remaja dapat memenuhi tugas-tugas tersebut dengan baik. Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu:

  1. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
  2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.

Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).

Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penguasaan tugas-tugas perkembangan :

Yang menghalangi :

  1. Tingkat perkembangan yang mundur.
  2. Tidak ada kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas perkembangan atau tidak ada bimbingan untuk dapat menguasainya.
  3. Tidak ada motivasi.
  4. Kesehatan yang buruk.
  5. Catat tubuh.
  6. Tingkat kecerdasan yang rendah.

Yang membantu :

  1. Pertumbuhan fisik remaja.
  2. Perkembangan psikis remaja.
  3. Kedudukan atau posisi anak dalam keluarga.
  4. Tingkat perkembangan yang normal atau yang diakselerasikan.
  5. Kesempatan-kesempatan untuk mempelajari tugas-tugas dalam perkembangan dan bimbingan untuk menguasainya.
  6. Motivasi.
  7. Kesehatan yang baik dan tidak ada catat tubuh.
  8. Tingkat kecerdasan yang tinggi.
  9. Kelancaran pelaksanaan tugas-tugas perkembangan masa sebelumnya.
  10. Kreativitas.

  1. F. Implikasi Tugas-tugas Perkembangan Remaja Bagi Pendidikan

Masing-masing tugas perkembangan itu membawa implikasi yang berbeda dalam penyelanggaraan pendidikan, yaitu dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan nonakademik berkenaan dengan penyesuaian peran sosial, pemahaman terhadap kondisi fisik dan psikologis, serta pemahaman dan penghayatan peran jenis kelamin.

Tugas-tugas perkembangan remaja harus dapat diselesaikan dengan baik, karena akan membawa implikasi penting bagi penyelenggaraan pendidikan dalam rangka membantu remaja tersebut, yaitu sebagai berikut :

  1. Sekolah dan perguruan tinggi perlu memberikan kesempatan melaksanakan kegiatan-kegiatan nonakademik melalui berbagai perkumpulan, misalnya perkumpulan penggemar olahraga sejenis, kesenian, dan lain-lain.
  2. Apabila ada remaja putra atau putri bertingkah laku tidak sesuai dengan jenis kelaminnya, mereka perlu dibantu melalui bimbingan dan konseling. Demikian juga, apabila seorang wanita lebih mementingkan studi dan kariernya daripada menaruh perhatiannya menjadi seorang ibu, hendaknya sekolah turut membantunya agar mereka mampu menerima peranannya sebagai wanita.
  3. Siswa yang lambat perkembangan jasmaninya diberi kesempatan berlomba dalam kegiatan kelompoknya sendiri. Perlu diberikan penjelasan melalui bidang studi biologi dan ilmu kesehatan bahwa pada diri remaja sedang terjadi perubahan jasmani yang bervariasi. Kepada siswa juga diberikan kesempatan untuk bertanya jawab tentang perkembangan jasmani itu.

Pemberian bantuan kepada siswa untuk memilih lapangan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan keinginannya, sesuai dengan sistem kemasyarakatan yang dianutnya, dan membantu siswa mendapatkan pendidikan yang bermanfaat untuk memepersiapkan diri memasuki pekerjaan. Semua ini hendaknya dilakukan oleh semua personil sekolah, terutama perugas bimbingan dan konseling, yaitu guru pembimbing atau konselor sekolah.

Perkembangan remaja dan transisinya

Posted in kuliah on Juli 3, 2010 by addin18

Pengertian psikologi perkembangan dan makna remaja

Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi yang mempelajari prosesperkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan perilaku.( J.P. Chaplin, 1979 ). Psikologi perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi sampai mati. ( Ross Vasta.dkk, 1992).

Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik cepat.Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam itu, membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja.(Darajat Zakiah, Remaja harapan dan tantangan: 8). Hal inilah yang membawa para pakar pendidikan dan psikologi condong untuk menamakan tahap-tahap peralihan tersebut dalam kelompok tersendiri, yaitu remaja yang merupakan tahap peralihan dari kanak-kanak, serta persiapan untuk memasuki masa dewasa.

Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).

Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.

Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.

Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.

Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).

Aspek-aspek perkembangan pada masa remaja

  1. 1. Perkembangan  fisik

Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001).Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi.Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan.Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).

  1. 2. Perkembangan Kognitif

Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka.Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka.Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut.

Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.

Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa.Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak.Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).

Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak.Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi.Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks.Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal.Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal.Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis.Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.

Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).

Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah “ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain” (Papalia dan Olds, 2001). Elkind (dalam Beyth-Marom et al., 1993; dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel.

Personal fabel adalah “suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri mengenai diri kita sendiri, tetapi [cerita] itu tidaklah benar” .Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya. Papalia dan Olds (2001) dengan mengutip Elkind menjelaskan “personal fable” sebagai berikut :

“Personal fable adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh hukum alam.Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri [self-destructive] oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya. Misalnya seorang remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil [karena perilaku seksual yang dilakukannya], atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai meninggal dunia di jalan raya [saat mengendarai mobil], atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang [drugs] berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan. Remaja biasanya menganggap bahwa hal-hal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya”.

Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993).Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.

Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.

  1. 3. Perkembangan kepribadian dan social

Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).

Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001).Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001).Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.

Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat.Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).

Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).

Beberapa transisi yang dihadapi pada masa rema

  1. 1. Transisi emosi

Secara tradisional masa remajaa disebut masa “ badai dan tekanan” suatu masa dimana ketegangan emosi remaja meningkat akibat perubahan fisik dan kelenjar. Adapun meningginya emosi remaja terutama karena anak laki – laki dan perempuan berada dibawah tekanan social dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selam masa kanak – kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan itu. Pola emosi remaja sama dengan pola emosi kanak – kanak perbedaannya terdapat pada rangsangan yang membangkitkan emosi dan drajat, dan khususnya pada pengendalian latihan individu terhadap ungkapan emosi mereka. Misalnya, perlakuan sebagai “anak kecil” atau secara “tidak adil” membuat remaja sangat marah dibandingkan dengan hal – hal lain. Remaja tidak mengungkapkan amarahnya dengan cara gerakan amarah yang meledak – ledak, melainkan dengan cara menggrutu, tidak mau berbicara, atau dengan suara keras mengkritik orang – orang yang menyebabkan amarah. Remaja juga iri hati terhadap orang yang mempunyai benda lebih banyak. Remaja dikatakan berhasil melaluimasa transisi emosi apabila ia berhasil mengendalikan diri dan mengekspresikan emosi sesuai dengan kelaziman pada lingkungan sosialnya tanpa mengabaikan keperluan dirinya, dia mengungkapkan emosinya dengan menilai sesuatu dengan kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional. Dan jika tidak berhasil melaluinya maka remaja itu akan terus terperangkap dalm emosi yang tidak menentu dan itu sangat berpengaruh pada perkembangan selanjutnya.

  1. 2. Transisi sosial

Pada  masa remaja hal yang terpenting dalam proses sosialisasinya adalah hubungan dengan teman sebaya, baik dengan sejenis maupun lawan jenis. Untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat penyesuaian baru. Yang terpenting dan tersulit adalah penyesuaian diri dengan meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, perubahan perilaku social,pengelompokan social baru, nilai – nilai baru dalam seleksi persahabatan, nilai – nilai baru dalam dukungan danpenolakan social, dan nilai – nilai baru dalam seleksi pemimpin. Jika berhasil melalui transisi social ini remaja akan memperoleh kebahagiaan, sedangkan jika tidak remaja tersebut akan mendapat kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi pada masa selanjutnya seperti menarik diri dari pergaulan, minder dan lain sebagainya.

  1. Transisi dalam agama

Sering terjadi remaja yang kurang rajin melaksanakan ibadah seperti pada masa kanak-kanak. Hal tersebut bukan karena melunturnya kepercayaan terhadap agama, tetapi timbul keraguan remaja terhadap agama yang dianutnya sebagai akibat perkembangan berfikirnya yang mulai kritis. Berdasarkan penilitian kritis terhadap keyakinan masa kanak – kanak, remaja sering merasa skeptis pada pelbagai bentuk religious dan mulai meragukan isi religious. Bagi beberapa remaja keraguan ini dapat membuat mereka menjadi kurang taat beragama, sedangkan remaja yang lain berusaha untuk mencari kepercayaan lain yang dapat lebih memenuhi kebutuhan daripada kepercayaan yang dianiut keluarganya. Remaja berfikir skeptic karena mereka berfikir kritis terhadap segala sesuatu yang mereka hadapi, jika hal tersebut mereka anggap memenuhi kebutuhan mereka akan menjadikan sebagai asumsi dasar tetapi jika hal tersebut bertentangan dengna pola fikir mereka, mereka akan menjadi ragu dan mencari kebanaran lain.

4. Transisi dalam hubungan keluarga

Dalam satu keluarga yang terdapat anak remaja, sulit terjadi hubungan yang harmonis dalam keluarga tersebut.Keadaan ini disebabkan remaja yang banyak menentang orang tua dan biasanya cepat menjadi marah.Sedangkan orang tua biasanya kurang memahami ciri tersebut sebagai ciri yang wajar pada remaja. seringkali orang tua tua menolak untuk memperbaiki konsep mereka tentang kemampuan anak – anak mereka setelah anak mereka menjadi lebih besar. Akibatnya mereka memperlakukan anak remaja seperti mereka masih kecil, hal itu yang membuat remaja memberntak, karena kondisi psikologis mereka berkembang, mereka ingin di hargai dan dihormati dan diberikan kepercayaan. Mereka ingin menunjukan bahwa mereka bias, mereka mampu untuk melakukan sesuatu.

5. Transisi dalam Moralitas

Pada masa remaja terjadi peralihan moralitas dari moralitas anak ke moralitas remaja yang meliputi perubahan sikap dan nilai-nilai yang mendasari pembentukan konsep moralnya.Sehingga sesuai dengan moralitas dewasa serta mampu mengendalikan tingkah lakunya sendiri.ketika memasuki asa remaja, anak – anak tidak begit saja menerima kode moral dari orang tua, guru atau bahkan teman sebayanya. Sekarang ia sendiri ingin membentuk kode moralnya sendiri berdasarkan konsep benar dan salah yang telah diubah dan diperbaikinya agar sesuai dengan tingkat perkembangan yang lebih matang dan telah dilengkapi dengan hukum –  hokum dan peratutan – peraturan yang telah dipelajari dari orang tua dan gurunya. Beberapa remaja bahkan melengkapi kode moral mereka dengan bebrapa pengetahuan yang diperoleh dari pelajaran agama. Pembentukan kode moral terasa sulit bagi remaja karena ketidak konsitenannya dalam kehidupannya sehari – hari. Pembentukan moral ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosialnya dimasa yang akan datang. Apabila pembentukan moral berhasil dengan baik maka remaja itu akan mendapatkan ketenangan jiwa dan di hormati oleh orang lain, tetapi jika tidak remaja tersebut akan mendapatkan kesengsaraan karena perilakunya yang jelek.

6. Transisi dalam kognitif

Kognitif transisi adalah fase penting dalam perkembangan anak. Ini adalah tahap di mana remaja belajar untuk berpikir dengan cara yang lebih maju, efisien dan kompleks dibandingkan dengan cara anak-anak. Awalnya, ketika seorang anak bergerak ke masa remaja, dia mampu berpikir lebih baik.Ia mampu berpikir tentang kemungkinan yang berbeda dari pada membatasi diri untuk apa yang nyata seperti anak-anak lakukan. Dengan kata lain, seorang remaja mampu berpikir hipotetis.

Tahap ke dua remaja mengembangkan kemampuan untuk berpikir tentang ide-ide abstrak.Sebagai contoh, remaja dapat memahami makna abstrak dalam permainan kata-kata, peribahasa, metafora dan analogi.Karena seorang remaja dapat berpikir tentang hal-hal abstrak, hal itu juga memungkinkan dia untuk maju menerapkan penalaran dan logika untuk isu-isu sosial dan ideologis.Hal ini jelas terlihat saat remaja menunjukkan minat dalam hubungan interpersonal, politik, filsafat, agama, moralitas, persahabatan, iman, demokrasi, kejujuran dan keadilan.

Tahap ketiga dari transisi kognitif pada masa remaja adalah tentang proses berpikir itu sendiri, juga dikenal sebagai metacognition. Hal ini karena fase ini dalam transisi kognitif menunjukkan bahwa remaja lebih introspeksi dan kesadaran diri.Metakognitif menawarkan keuntungan intelektual remaja tetapi juga mempengaruhi mereka negatif.Mereka cenderung lebih egosentris dan selalu sibuk dengan diri mereka sendiri.

Kognitif lain perubahan yang Anda lihat di remaja adalah kemampuan mereka untuk berpikir tentang berbagai hal. Anak-anak dapat berkonsentrasi pada satu hal pada suatu waktu saat remaja dapat melihat banyak perspektif dan mereka menafsirkan hal-hal dalam berbagai cara yang berbeda tergantung pada sudut pandang apa yang mereka pegang.

Akhir transisi kognitif pada masa remaja adalah kemampuan untuk melihat hal-hal sebagai relatif.Anak-anak mengambil segala sesuatu pada nilai nominal dan dunia adalah hitam dan putih mereka.Mereka tidak melihat nuansa abu-abu.Remaja mengembangkan kemampuan untuk melihat abu-abu dan itulah sebabnya mereka cenderung tidak menerima fakta-fakta yang disebut sebagai kebenaran lengkap. Mereka juga belajar untuk mempertanyakan orang tua dan ini bisa sangat menjengkelkan karena tampaknya pertanyaan remaja demi memulai sebuah argument

7. Transisi biologis

Menurut Santrock (2003: 91) perubahan fisik yang terjadi pada remaja terlihat nampak pada saat masa pubertas yaitu meningkatnya tinggi dan berat badan serta kematangan sosial.Diantara perubahan fisik itu, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin panjang dan tinggi).Selanjutnya, mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh (Sarlito Wirawan Sarwono, 2006: 52).

Selanjutnya, Menurut Muss (dalam Sunarto & Agung Hartono, 2002: 79) menguraikan bahwa perubahan fisik yang terjadi pada anak perempuan yaitu; perertumbuhan tulang-tulang, badan menjadi tinggi, anggota-anggota badan menjadi panjang, tumbuh payudara.Tumbuh bulu yang halus berwarna gelap di kemaluan, mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimum setiap tahunnya, bulu kemaluan menjadi kriting, menstruasi atau haid, tumbuh bulu-bulu ketiak.

Sedangkan pada anak laki-laki peubahan yang terjadi  antara lain; pertumbuhan tulang-tulang, testis (buah pelir) membesar, tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus, dan berwarna gelap, awal perubahan suara, ejakulasi (keluarnya air mani), bulu kemaluan menjadi keriting, pertumbuhan tinggi badan mencapai tingkat maksimum setiap tahunnya, tumbuh rambut-rambut halus diwajaah (kumis, jenggot), tumbuh bulu ketiak, akhir perubahan suara, rambut-rambut diwajah bertambah tebal dan gelap, dan tumbuh bulu dada.

Pada dasarnya perubahan fisik remaja disebabkan oleh kelenjar pituitary dan kelenjar hypothalamus.Kedua kelenjar itu masing-masing menyebabkan terjadinya pertumbuhan ukuran tubuh dan merangsang aktifitas serta pertumbuhan alat kelamin utama dan kedua pada remaja (Sunarto & Agung Hartono, 2002: 94)

Kriteria Penahapan Perkembangan Individu Perkembangan manusia

Pada umumnya masa remaja dapat dibagi dalam 2 periode yaitu:

Masa Puber usia 12-18 tahun

a. Masa Pra Pubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas. Cirinya:

  • Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi
  • Anak mulai bersikap kritis

b. Masa Pubertas usia 14-16 tahun: masa remaja awal. Cirinya:

  • Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya
  • Memperhatikan penampilan
  • Sikapnya tidak menentu/plin-plan
  • Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib

c. Masa Akhir Pubertas usia 17-18 tahun: peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen. Cirinya:

  • Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya
  • Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria

Remaja Adolesen usia 19-21 tahun

Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:

  • perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
  • mulai menyadari akan realitas
  • sikapnya mulai jelas tentang hidup
  • mulai nampak bakat dan minatnya

Dengan mengetahui berbagai tuntutan psikologis perkembangan remaja dan ciri-ciri usia remaja, diharapkan para orangtua, pendidik dan remaja itu sendiri memahami hal-hal yang harus dilalui pada masa remaja ini sehingga bila remaja diarahkan dan dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya remaja akan tumbuh sehat kepribadian dan jiwanya.

Permasalahan yang sering muncul sering kali disebabkan ketidaktahuan para orang tua dan pendidik tentang baerbagai tuntutan psikologis ini, sehingga perilaku mereka seringkali tidak mampu mengarahkan remaja menuju kepenuhan perkembangan mereka. Bahkan tidak jarang orang tua dan pendidik mengambil sikap yang kontra produktif dari yang seharusnya diharapkan, sehingga semakin

mengacaukan perkembangan diri para remaja tersebut. Sebuah PR yang panjang bagi orang tua dan pendidik, yang menuntut mereka untuk selalu mengevaluasi sikap yang diambil dalam pendidikan remaja yang dipercayakan kepada mereka. Dengan demikian, diharapkan para orang tua dan pendidik dapat memberikan rangsangan dan motivasi yang tepat untuk mendorong remaja menuju pada kepenuhan dirinya

Ciri – ciri remaja madya
Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.

  1. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.
  2. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
  3. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
  4. Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.

Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.

Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja ”Madya”

Setiap individu akan mengalami proses perkembangan yang tidak akan dapat ditolak, terlepas dari kehendak individu yang bersangkutan. Proses tersebut berjalan dengan kodrati dan melalui tahapan – tahapan yang telah ditentukan olehNya. Alloh berfirman dalam surat Al Mukminun 14 :
وقدخلقكمأطوارا !
Artinya : Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian ( Q.S. 71 : 14 )

Pertumbuha dan kembangan masa di masa remaja madya’ individu merupakan suatu proses perubahan individu yang bersifat tetap menuju kearah yang lebih sempurna dan tidak dapat diulang kembali. Menurut Werner (1969) yang dikutip oleh Monks dkk dalam buku psikologi pertumbuhan dan perkembangan madya’ menyatakan bahwa pengertian perkembangan individu menunjuk pada suatu proses kearah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja diulang kembali. Perkembangan individu menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diulang kembali.

Proses pertumbuha perkembangan di masa madya ini selalu menuju proses differensiasi dan integrasi. Proses differensiasi artinya ada prinsip totalitas pada

diri individu. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian – bagiannya menjadi sangat nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan.

Setiap individu akan mengalami proses perkembangan yang berlangsung melalui tahapan – tahapan perkembangan secara berantai. Walaupun tidak ada pemisah yang jelas antara masing – masing tahapan tersebut, proses pertumbuhan dan perkemangan ini bersifat universal atau umum.

Dalam proses pertumbuha dan perkembangan ini dikenal adanya irama atau naik turunnya proses perkembangan. Artinya proses pertumbuhan dan perkembangan di masa madya’ manusia itu tidak konstan terkadang naik terkadang turun. Pada suatau saat individu mengalami perkembangan yang menggoncangkan.

Menurut para ahli psykologi individu biasanya mengalami dua masa pancaroba atau krisis yang biasanya disebut Trotz. Masa ini terjadi dalam periode :
1. Periode pertama : terjadi pada usia 2 – 3 tahun dengan ciri utama anak menjadi egois, selalu mendahulukan kepentingan diri sendiri.
2. Periode kedua : Terjadi pada usia antara 14 – 17 tahun dengan ciri utama sering membantah orang tuanya dan cenderung mencari identitas diri.
Tentang Trotz yang kedua diatas perlu digaris bawahi bahwa usia 14 – 17 tahun bukanlah harga mati. Artinya rentang usia remaja yang mengalami krisis tahap kedua ini dimasing-masing daerah mungkin berbeda boleh jadi lebih cepat atau lebih lambat.
Proses perkembangan individu memiliki karakter kecepatan yang bervariasi. Dengan kata lain ada individu memiliki tingkat perkembangan cepat, sedang dan lambat. Tingkat proses perkembangan individu tersebut diakibatkan oleh adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya.

“Pertumbuhan dan perkembangan madya’ dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis (perubahan yang bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya, baik fisik maupun psikis ( psikologis ) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis), progresif (perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan meluas, baik secara kuantitatif/fisik mapun kualitatif/psikis), dan berkesinambungan (perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan) dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya”. (Yusuf, 2003:15). Setiap individu akan mengalami proses perkembangan yang berlangsung melalui tahapan-tahapan perkembangan secara berantai

Masa remaja akhir

Setelah remaja telah ditentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapailah masa remaja akhir dan telah terpenuhilah tugas-tugas perkembangan masa remaja, yaitu menemukan pendirian hidup masuklah individu ke dalam masa dewasa.
Masa Usia Kemahasiswaan

Masa usia mahasiswa sebenarnya berumur sekitar 18,0 sampai 25,0 tahun. Mereka dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya. Dilihat dari segi perkembangan, tugas perkembangan pada usia mahasiswa ini ialah pemantapan pendirian hidup.

Periode Remaja Adolesen usia 19-21 tahun

Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:

  • perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
  • mulai menyadari akan realitas
  • sikapnya mulai jelas tentang hidup
  • mulai nampak bakat dan minatnya

Dengan mengetahui berbagai tuntutan psikologis perkembangan remaja dan ciri-ciri usia remaja, diharapkan para orangtua, pendidik dan remaja itu sendiri memahami hal-hal yang harus dilalui pada masa remaja ini sehingga bila remaja diarahkan dan dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya remaja akan tumbuh sehat kepribadian dan jiwanya.

Permasalahan yang sering muncul sering kali disebabkan ketidaktahuan para orang tua dan pendidik tentang baerbagai tuntutan psikologis ini, sehingga perilaku mereka seringkali tidak mampu mengarahkan remaja menuju kepenuhan perkembangan mereka.Bahkan tidak jarang orang tua dan pendidik mengambil sikap yang kontra produktif dari yang seharusnya diharapkan, sehingga semakin mengacaukan perkembangan diri para remaja tersebut.Sebuah PR yang panjang bagi orang tua dan pendidik, yang menuntut mereka untuk selalu mengevaluasi sikap yang diambil dalam pendidikan remaja yang dipercayakan kepada mereka.Dengan demikian, diharapkan para orang tua dan pendidik dapat memberikan rangsangan dan motivasi yang tepat untuk mendorong remaja menuju pada kepenuhan dirinya.

Sumber pustaka

Aaro, L.E. (1997). Adolescent lifestyle.Dalam A. Baum, S. Newman J. Weinman, R. West and C. McManus (Eds).Cambridge Handbook of Psychology, Health and Medicine (65-67). Cambridge University Press, Cambridge.

Beyth-Marom, R., Austin, L., Fischhoff, B., Palmgren, C., & Jacobs-Quadrel, M. (1993). Perceived consequences of risky behaviors: Adults and adolescents. Journal of Developmental Psychology, 29(3), 549-563

Conger, J.J. (1991).Adolescence and youth (4th ed). New York: Harper Collins

Deaux, K.,F.C,and Wrightman,L.S. (1993). Social psychology in the ‘90s (6th ed.). California : Brooks / Cole Publishing Company.

Gunarsa, S.D. (1988). Psikologi remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Gunarsa, S.D. (1990). Dasar dan teori perkembangan anak. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Hurlock, E. B. (1990). Developmental psychology: a lifespan approach. Boston: McGraw-Hill.

Hurlock, E. B. (1973). Adolescent development.Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha.

Monks, F.J., Knoers, A. M. P., Haditono, S. R. (1991) Psikologi perkembangan : Pengantar dalam berbagai bagiannya (cetakan ke-7). Yogya: Gajah Mada University Press.

Papalia, D E., Olds, S. W., & Feldman, Ruth D. (2001).Human development (8th ed.). Boston: McGraw-Hill

Rice, F.P. (1990). The adolescent development, relationship & culture (6th ed.). Boston: Ally & Bacon

Santrock, J.W. (2001). Adolescence (8th ed.). North America: McGraw-Hill.